Ketua Koperasi Rumput Laut Mina Agar Makmur Yusup Berharap : " Revitalisasi Tambak Budi Daya Ikan Nila Merah Oleh KKP Dapat Berkalaborasi Dengan Petambak Budi Daya Rumput Laut".

Infokotanews
03 Mei 2026, 18:59 WIB Last Updated 2026-05-03T12:11:46Z


Karawang.www.infokotanews.net.

Setelah dua dekade merintis dari satu petak tambak, petambak rumput laut _Gracilaria_ di Karawang kini berharap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merangkul kelompok petambak dalam program strategis nasional Revitalisasi Tambak Pantura Jawa untuk pembudidayaan nila merah.


Harapan itu disampaikan Ketua Koperasi Mina Agarmakmur, Usup Supriatna, yang sejak 2006 mengembangkan budidaya rumput laut di Tambaksari bersama investor Taiwan. 


“Prosesnya tidak mudah diterima masyarakat sekitar. Tapi itu tidak menghalangi semangat untuk membuktikan,” kata Usup kepada awak media saat berbincang di kantor nya, Sabtu, (3/5/2026). Siang.



Dibeberkannya, Berawal dari mengontrak 1 petak tambak, Usup mendirikan kelompok budidaya rumput laut berbasis masyarakat. Pada 2008, penelitian budidaya dinyatakan berhasil oleh investor. Kelompoknya lalu menjadi vendor supplier perusahaan agar-agar.  


Sekitar 2011-2012, program Gapura era Gubernur Jabar Ahmad Heryawan memberi bantuan pembibitan. Namun saat itu warga masih belum banyak tertarik.  


Kondisi berbalik pada 2026. Usup bersama 76 petambak kini mengelola 421 hektar tambak dengan produksi 120-130 ton rumput laut basah per bulan. Produk sudah berstandar SNI. Mitra petambak tersebar di Bekasi, Subang, dan Indramayu.  


“Budidaya rumput laut terbukti menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar. Ini sudah jadi tumpuan mata pencaharian masyarakat setempat,” ujar Usup.  


Potensi pasar global sudah terbuka. Usup mengungkap ada permintaan dari buyer China sebanyak 3.000 ton rumput laut kering per tahun untuk bahan baku industri pangan dan kosmetik.  


“Permintaan 3.000 ton per tahun itu nyata. Harganya bagus. Tapi kami masih belum bisa ekspor rumput laut kering karena terganjal sertifikasi HACCP. Buyer luar wajib minta itu untuk jaminan keamanan pangan,” jelas Usup.  


Saat ini sertifikasi HACCP dari KKP belum dimiliki kelompoknya. Padahal komoditas rumput laut punya nilai strategis untuk farmasi, pangan, tekstil, pupuk, hingga medis.  


Menyikapi program Revitalisasi Tambak KKP, Usup dan 76 petambak berharap usaha yang sudah berjalan 20 tahun ini terus diberdayakan.  


Ketua Koperasi Mina Agarmakmur mengusulkan potensi budidaya rumput laut Karawang dimasukkan dalam skema Revitalisasi Tambak dengan pengelolaan berbasis masyarakat yang berkeadilan.  


“Kami tidak minta dimulai dari nol. Infrastruktur, SDM, dan pasar sudah ada. Kami hanya butuh dikuatkan bersama KKP, terutama pendampingan sertifikasi HACCP dan penguatan koperasi sebagai offtaker,” tegas Usup.  


Budidaya Gracilaria Karawang juga telah menjadi objek penelitian mahasiswa S1 hingga S2, dari kampus lokal sampai Singapura.  


“Kami berharap koperasi dan masyarakat dapat berkolaborasi dengan program revitalisasi untuk melanjutkan usaha yang telah dibangun bersama-sama puluhan tahun lalu,” papar Usup.  


Rumput laut _Gracilaria_ sendiri punya nilai strategis untuk ketahanan pangan, farmasi, kosmetik, tekstil, hingga pupuk. Dengan dukungan KKP, Karawang siap jadi salah satu sentra rumput laut nasional yang kuat dan berdaya saing ekspor.

Komentar

Tampilkan

Berita Lainnya >>

Pendidikan

+