Karawang.www.infokotanews.net.
Budidaya rumput laut jenis Gracilaria di tambak Karawang menjadi penyelamat ekonomi petambak di tengah rencana Program Revitalisasi Tambak Pantura Jawa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Pembudidaya tambak Karawang kini berharap KKP mengakomodir budidaya rumput laut ke dalam program revitalisasi yang akan berjalan mulai 2025.
Ketua Koperasi Mina Agarmakmur Kecamatan Tirtajaya, Usup Supriatna, menegaskan masyarakat pesisir sudah lebih dulu mengandalkan rumput laut sebagai sumber ekonomi baru.
“Selama ini masyarakat mengolah dan memproduksi tambak rumput laut di Karawang, khususnya di Desa Sedari dan Tambaksari, Cibuaya, . Berkembang pesat sebagai potensi ekonomi,” kata Usup kepada awak media. Sabtu (3/5/2026).
Saat ini budidaya Gracilaria mencakup sekitar 250 hektar lahan tambak di Karawang. Produksi mencapai hingga 120 ton rumput laut per bulan.
Metode yang digunakan adalah sistem horizontal di tambak, seringkali dikombinasikan dengan polikultur bandeng. Hasil panen difokuskan untuk bahan baku agar-agar dan pakan ikan.
Usup menyebut, budidaya rumput laut terbukti menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar.
“Untuk 250 hektar ini saja sudah menyerap 400 lebih tenaga kerja lokal. Mulai dari penanaman, perawatan, panen, sampai penjemuran. Kebanyakan ibu-ibu dan pemuda yang sebelumnya nganggur atau cuma buruh serabutan,” ungkap Usup.
“Budidaya ini terus dikembangkan untuk menjadi andalan utama ekonomi pesisir Karawang, bahkan berpotensi menargetkan produksi 300 ton per bulan dengan serapan tenaga kerja bisa 1.000 orang,” tambahnya.
Program Revitalisasi Tambak Pantura Jawa merupakan inisiatif strategis KKP untuk mengaktifkan kembali 20.413,25 hektar lahan tambak tidak produktif di Bekasi, Karawang, Subang, dan Indramayu mulai 2025.
Fokus utama program adalah budidaya ikan nila salin modern dengan sistem terintegrasi dari hulu ke hilir untuk meningkatkan produktivitas, menciptakan lapangan kerja, serta mendukung ketahanan pangan.
Namun, Usup menilai rumput laut sudah terbukti menjadi penopang saat komoditas lain jatuh.
“Rumput laut ini penyelamat saat udang gagal dan bandeng harga jatuh. Kalau KKP mau revitalisasi, harusnya rumput laut masuk jadi bagian program,” tegasnya.
Potensi rumput laut Karawang sudah dilirik pasar luar negeri. Usup mengungkapkan, Potensi ekspor rumput laut Karawang sangat besar. sudah ada permintaan dari buyer China sebanyak 3.000 ton rumput laut kering per tahun untuk bahan baku industri pangan dan kosmetik.
"Permintaan 3.000 ton per tahun itu nyata. Harganya bagus. Tapi kami masih belum bisa ekspor rumput laut kering karena terganjal sertifikasi HACCP. Buyer luar wajib minta itu untuk jaminan keamanan pangan," jelas Usup.
Menurutnya, kendala sertifikasi. Padahal, jika bisa ekspor langsung, nilai tambah akan berlipat dan dinikmati petambak.
"Kami butuh pendampingan pemerintah untuk urus HACCP, pekan lalu buyer dari China datang langsung untuk melihat kualitas Gracilaria hasil tambak desa Tambaksari dan Sedari.
Selain industri pangan dan ekspor, rumput laut berpotensi jadi bahan baku pupuk organik untuk tanaman padi. Hal ini relevan karena Karawang juga merupakan lumbung padi nasional.
“Penggunaan limbah rumput laut atau ekstrak Sargassum sp. atau Gracilaria sp. dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan padi dan kesehatan tanah,” jelas Usup.
Rumput laut kaya unsur hara mikro Fe, B, Ca, K, Mg dan hormon alami auksin, sitokinin, giberelin. Polisakarida seperti alginat membantu tanah menyimpan air. Pupuk Organik Cair (POC) rumput laut terbukti meningkatkan bahan organik tanah Vertisol dan produktivitas padi berkelanjutan.
Koperasi Mina Agarmakmur kini mengusung konsep "Ekonomi Biru (Blue Ekonomi)". Mereka berharap program pemerintah bisa mengakomodir komoditas yang sudah berjalan dan terbukti menghidupi warga pesisir.
Usup berharap kepada pemerintah untuk terus mendorong masyarakat petambak rumput laut untuk mandiri dan maju berkembang
“Jangan dilepas. Tawaran ekspor sudah datang. Tenaga kerja lokal sudah terserap. Kami sudah buktikan 120 ton per bulan. Tinggal dukungan dan dorongan pemerintah mau menjadikan ini kekuatan ekonomi, Dari Tirtajaya menuju Dunia, Karawang Maju” tutup Usup.( her)


