Karawang.www.infokotanews.net.
Di balik hamparan tambak pesisir Karawang, ada denyut nadi ekonomi keluarga yang bertahan 20 tahun. Namanya rumput laut Gracilaria.
Bagi 76 petambak Koperasi Mina Agarmakmur di Tirtajaya, rumput laut bukan sekadar komoditas. Ia adalah harkat dan derajat. Bukti bahwa dari lumpur tambak, keluarga Karawang bisa berdiri tegak dan bermimpi tinggi.
Bagi keluarga petambak, 1 petak tambak adalah biaya sekolah anak, beras di dapur, dan cicilan motor yang lunas. Saat panen, upah harian mengalir ke buruh serabut, ibu-ibu pemilah, hingga tukang angkut. Ekonomi berputar di akar rumput.
“Usaha ini sudah jadi tumpuan mata pencaharian. Menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar. Bahkan jadi objek penelitian mahasiswa S1 sampai S2, dari kampus lokal hingga Singapura,” ujar Ketua Koperasi, Usup Supriatna.
Selain untuk bahan baku produksi agar-agar, Koperasi Mina Agarmakmur mengembangkan budidaya dengan inovasi dan kolaborasi bersama pembudidaya binaan. Koperasi juga membuka kemitraan pengembangan Corporate Farming.
Bahkan kini sudah lahir produk hilir: Mie Agar-Agar atau Mie Kristal Agar. “Kami kembangkan produk olahan inovatif bernilai tambah berbahan baku agar-agar sebagai makanan siap seduh yang tinggi serat pangan, tentunya baik untuk kesehatan tubuh,” kata Yusup.
“Setelah diproses menjadi rumput laut kering lalu kami jual ke pabrik proses penepungan. Lalu kami beli kembali untuk diproduksi Mie Agar-agar,” jelasnya.
Produk rumput laut Karawang dan hasil petambak Bekasi, Subang, hingga Indramayu kini ber-SNI. Dipasarkan untuk agar-agar, farmasi, tekstil, dan pupuk.
Harapan terbesar: ekspor 3.000 ton/tahun ke China. “Permintaannya nyata. Harganya bagus. Tapi kami terganjal sertifikasi HACCP. Buyer luar wajib minta itu,” kata Yusup.
Kami tidak minta dikasihani. Rangkul kami fasilitasi HACCP, kami buktikan Karawang bisa naik derajat — dari tambak, ke pabrik, RRke meja makan dunia.


