Jejak Budaya " Sumur Awisan Bah Mangkung Citamiang Air Yang Lahir dari Nyiru "..

Infokotanews
25 Mei 2026, 19:20 WIB Last Updated 2026-05-25T12:29:52Z


Karawang, Di tepian Sungai Citamiang, Desa Kalibuaya, Telagasari, Karawang, ada sebuah sumur yang tak pernah kering. Namanya Sumur Awisan Bah Mangkung. Ia berdiri di atas aliran air yang terus berjalan, seolah menantang hukum alam.


Cerita ini terekam dalam penelusuran Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Karawang, Waya Karmila. Pada hari Minggu, 24 Mei 2026 Melalui wawancaranya dengan Bapak Datim, cucu buyut dari Bah Mangkung, kisah lama itu kembali dihidupkan.


Dulu, di masa hidup buyutnya, tempat itu tandus. Tidak ada setetes air pun. Dalam keadaan tak berdaya, Bah Mangkung melempar sebuah nyiru. Nyiru itu jatuh tepat di atas tanah yang kini menjadi sumur.


"Pas nyirunya dilempar jatuh tepat di titik tanah yang jadi sumur itu, pas dilihat tiba-tiba airnya mumbul keluar sendiri di tempat itu," kenang Datim pelan.


Dari peristiwa itulah warga menyebutnya Awisan—yang muncul dengan sendirinya, tanpa digali, tanpa diminta. Airnya jernih, menyumber tenang di atas sungai, dan dipercaya memiliki khasiat untuk menyembuhkan luka.


Bagi masyarakat Kalibuaya, sumur ini lebih dari sekadar sumber air. Ia adalah jejak. Jejak kepercayaan bahwa berkah kadang datang ketika manusia sudah menyerahkan diri pada keadaan. Jejak Bah Mangkung yang namanya tetap disebut, meski zaman sudah berubah.


Hingga kini, peziarah masih datang. Mereka duduk di pinggir sumur, mengambil airnya, dan mendengarkan cerita itu diulang kembali. 


Sumur Awisan Bah Mangkung bertahan bukan karena tembok tinggi, tapi karena dirawat dalam ingatan. Di Karawang, ketika sungai surut dan musim kemarau datang, ia tetap ada. Seperti kisah itu sendiri—menolak untuk kering.


Pemerintah daerah melalui Bidang Kebudayaan terus mendokumentasikan situs seperti Sumur Awisan Bah Mangkung agar nilai sejarah dan tradisinya tetap terjaga di tengah perubahan zaman.


Menutup penelusuran tersebut, Waya Karmila menegaskan pentingnya menjaga warisan ini. 


"Dokumentasi dan pelestarian cerita lisan seperti Sumur Awisan Bah Mangkung adalah bagian dari upaya kita merawat identitas budaya Karawang agar tidak hilang ditelan waktu," pungkasnya.

Komentar

Tampilkan

Berita Lainnya >>

Pendidikan

+